Search

Kamis, 07 Februari 2013

Haruskah Syi'ah ditolak?

Haruskah Syi'ah ditolak?

aruskah Syi'ah ditolak?, aruskah Syi'ah ditolak? di blog MAIYAH ini diposting oleh Horiq Sobarqah 8 Februari 2013. ( 5.0 )

Reportase Dialog Publik di IAIN Sunan Ampel 22 Oktober 2012




Dialog Publik bertema “Haruskah Syi’ah Ditolak?” diselenggarakan oleh Senat Mahasiswa Fakultas Ushuludin IAIN Sunan Ampel Surabaya dan PMII Komisariat Ushuludin Surabaya pada tanggal 22 Oktober 2012. Acaranya yang sedianya akan bertempat di Aula IAIN Sunan Ampel karena larangan Rektorat, maka kemudian tempat bergeser di Ruang Auditorium Fakultas Ushuludin. Salah seorang Panitia yang tidak mau disebut namanya mengatakan bahwa POLDA melarang keras Acara Dialog tersebut, Panitia juga beberapa kali menerima telpon dari Oknum yang menyebut dirinya POLDA jatim untuk tidak melanjutkan penyelenggaraan acara. Namun Panitia tetap nekat untuk menyelenggarakan acara dengan alasan ini hanyalah diskusi ilmiah yang diselenggarakan di dalam Kampus yang tidak harus ijin kepada Pihak Kepolisian. Bergesernya Tempat penyelenggaraan menyebabkan Panitia Kalang kabut dalam menata properti dan perlengkapan diskusi. Ruangan yang sempit dan kurangnya Sarana Audio serta Ventilasi yang kurang menyebabkan suasana diskusi kurang begitu ideal. Namun suasana diskusi tetap berlangsung meriah dengan segala kekurangan tersebut.

Menurut Publikasi Panitia Acara tersebut akan menghadirkan 7 (Tujuh) Narasumber. Tetapi beberapa berhalangan hadir dengan berbagai alasan. Hingga hanya 3 Narasumber yang kemudian hadir sebagai pemakalah; Emha Ainun Nadjib (Budayawan) yang biasa dipanggil Cak Nun, Drs. K.Ng. Agus Sunyoto, M.Pd (Sejarawan NU/Dosen Universitas Brawijaya Malang), dan Prof. DR. Syamsul Arifin (Tokoh Muhammadiyah /Guru Besar Universitas Muhammadiyah Malang).

Pada sesi pertama Cak Nun sebagai pemakalah menekankan untuk membuka cakrawala pemikiran dalam mengukur segala hal. Cak Nun juga berpesan agar tidak salah dalam meletakkan perbedaan.  Apakah perbedaan prinsip atau sekedar khilafiyah. Mengingat kenyataan sekarang, maraknya penganiayaan, tindakan anarkis, bahkan pembunuhan dikarenakan kurang tepat dalam menakar sebuah perbedaan. Perbedaan khilafiyah ditakar sebagai perbedaan akidah. Bahkan produknya difatwakan. Sungguh hal semacam itu sangat mengingkari semangat penghargaan terhadap kehidupan manusia seperti yang dimaksudkan dalam al-Qur’an. “Melenyapkan satu jiwa tanpa alasan yang haq sama halnya membunuh seluruh manusia” cetusnya.

Cak Nun mengurai Khilafiyah dan Ikhtilafiyah dengan memberi contoh-contoh ringan tentang budaya yang terjadi di Masyarakat Muhammadiyah dan NU. Dengan Nada bercanda Cak Nun menyebut warga NU sebagai orang yang boros, "Wong NU ben dino Sholawatan, masio ngerti nek dongane gak mandi sik tetep Sholawatan. Sampek-sampek arek-arek sing penggaweane angon wedus, teplek, jagong nang warung apal karo sholawatan. Nek wong Muhamadiyah khan Efisien bar sembayang trus Ndungo dewe-dewe sampek Gedene Arek-arek Muhamadiyah akeh sing gak isok Ndungo". Pembawaan Cak Nun yang ringan dan penuh Canda membuat Semua hadirin Gembira.

Hal kedua yang ditekankan Cak Nun bahwa Forum Diskusi yang diselenggarakan di IAIN hari itu adalah Forum Intelektual atau   pengkajian keilmuan bukan produk hukum atau fatwa. "Ibarat orang memasak, saya hanya menunjukkan ini Dandang, kompor dan ini jagungnya untuk dimasak. Anda sebagai Ilmuwan silahkan Riset lebih mendalam tentang cara masaknya hingga bisa menjadi hidangan" ulas Cak nun kemudian.

Hal Ketiga Cak Nun menegaskan kembali bahwa yang wajib untuk menyelesaikan masalah Syi'ah dan Kejadian di Sampang adalah Pemerintah beserta Organisasi-organisasi Islam lainnya. Bukan Forum ini atau anda para Mahasiswa. Harusnya Pemerintah, NU, Muhamadiyah dan Organisasi Islam duduk bersama membuat ketetapan perundangan yang jelas tentang Hal ini.

Selanjutnya Agus Sunyoto menggarisbawahi bahwa semua bentuk kekerasan yang ada memang telah di-setting oleh konstelasi konspirasi global. Kepentingan dominasi Amerika dan Israel pasti hadir dalam setiap skenario tersebut. Menanggapi beberapa kasus yang menimpa Syi'ah. Beliau secara implicit menolak tuduhan Syi'ah sesat. Agus Sunyoto mengatakan, “Bagaimana orang Sunni bisa mencap Syi'ah sebagai aliran sesat? Sedangkan Imam Maliki, Imam Hambali, Imam Hanafi dan Imam Syafii menimba ilmu dari Imam Ja’far Shodiq baik secara langsung atau tidak langsung. Imam Ja’far Shodiq adalah salah satu Imam Syi'ah ”. Tambahnya, “Kalau Syi'ah sesat bagaimana dengan ajaran keempat mazhab tersebut ?. Drama-drama seperti itu hanyalah reproduksi dari peristiwa-peristiwa sejarah dengan waktu dan lain tempat semata".

Syamsul Arifin menguatkan pernyataan Agus Sunyoto dengan menyatakan bahwa secara sosiologis “Pembantaian di Sampang” itu bertentangan dengan budaya persaudaraan 'tretan dibi’ (Suadara Sendiri) dalam masyarakat Madura, atau semacam “pela gandong-nya” masyarakat Ambon. 


Setelah tiga sesi dari nara sumber, Moderator membawa Hadirin masuk sesi tanya-jawab. Sesi ini berlangsung cukup meriah. Nampak banyak Hadirin yang mengacungkan tangan untuk bertanya. Namun Moderator membatasi kesempatan pada tiga penanya.

Penanya pertama, Mahmud S. mengungkapkan bahwa perbedaan Suni dan Syi'ah bukan sekedar perbedaan Ikhtilafiyah, tapi sudah menginjak pada wilayah Ideologi. Penanya Kedua bertanya tentang bagaimana caranya Sesama Umat Muslim bisa saling menghargai. Penanya ketiga menuntut agar forum ini tegas memberikan fatwa Menolak, menerima atau bila tengah-tengah rekomendasinya jelas harus seperti apa.

Setelah ketiga pertanyaan disampaikan Moderator mempersilahkan Cak Nun untuk menjawab pertanyaan tersebut. Cak Nun langsung merespon pertanyaan Ketiga dan pertama dengan membalikkan tuntutan tentang agar pembicaraan ini menelurkan pernyataan Syi'ah ditolak atau diterima. Menurut Cak Nun, Cak Nun juga tidak paham tentang Syi'ah itu Ikhtilafiyah atau Khilafiyah. Menurut Cak Nun bukan kapasitas forum semacam ini untuk menelurkan fatwa menolak atau menerima Syi'ah. Hal semacam ini adalah tanggung jawab pemerintah bersama ulama dan Organisasi-organisasi Masyarakat Islam. Bahkan Cak Nun meminta mahasiswa agar tegas, jangan setengah-setengah.“Bila ingin menolak, ya buatlah surat ke pemerintah agar men-sesat-kan Syi'ah, juga menuntut lembaga bahtsul masail NU atau dewan tarjih Muhammadiyah sekalian untuk itu. Bila perlu dilakukan demo. Atau Sebaliknya. Cak Nun 'ngujo'  dengan memberi tawaran Istidraj agar NU, Muhammad, atau Al-Bayyinat sekalian memfatwakan agar membunuh Syi'ah dimana pun berada kalau berani.

Menjawab pertanyaan Tentang Tolerasi, Cak Nun menandaskan bahwa sejak bayi manusia mempunyai bawaan untuk saling toleran. Dengan nada Guyon Khas Cak Nun memberikan beberapa contoh tentang Tolerannya masyarakat Indonesia. "Bila ada yang menyerang, mengintimidasi Indonesia, maka kita harus membalasnya dengan Cinta. Karena Indonesia Akan memimpin dunia" dengan kalimat Takbir dan Semangat berapi-api Cak Nun berkali-kali mengulang kata-kata "Indonesia akan memimpin Dunia".

Setelah diskusi hampir selesai seorang hadirin dari Ketua Bidang Organisasi al-Bayyinat yaitu Ahmad Bin Zein Alkaff yang sedari awal berada di barisan terdepan angkat bicara dengan Nada tinggi "Adakah kecintaan hadirin kepada Rasulullah, kepada Istri-istri Rosulullah ?" Dan menyambungnya dengan sholawat serta menyatakan bahwa golongan yang mencaci istri-istri Nabi sebagai golongan sesat. Sholawat Ahmad Bin Zein Alkaff disambut dengan pekik keras salah seorang hadirin di Belakang "Ya Husein.. Ya Husein"

Ahmad Bin Zein Alkaff yang juga pengurus Syuriah NU Jatim sekaligus Pengurus MUI Jatim kembali mengeluarkan pernyataannya "Imam Ja'far Shodiq adalah imamnya Ahli Sunnah, bukan Imam yang diklaim oleh Golongan tertentu. Sepuluh fatwa yang dikatakan oleh Perwakilan Muhammadiyah tadi, bahwa sebenarnya MUI Jatim, NU Jatim telah menyatakan bahwa organisasi tersebut adalah Sesat". Pernyataan Ahmad Bin Zein kemudian di-Interupsi oleh Syamsul Arifin, tapi dari belakang ada yang berkata dengan suara keras "Ndak Usah".

Situasi kemudian memanas, semua hadirin berdiri dengan riuhnya. Melihat situasi yang tidak kondusif, Moderator memutuskan untuk mengakhiri Dialog dan meminta Cak Nun Untuk memimpin Doa dan mengakhiri dengan Dialog dengan bersholawat bersama.

Nampak Syamsul Arifin mendekati Ahmad Bin Zein Alkaff dan berbicara empat mata. Sementara Cak Nun mengajak seluruh Hadirin bersholawat. Setelah bersholawat bersama suasana lebih sejuk. Cak Nun kemudian meminta pernyataan hadirin bahwa Forum tersebut aman untuk semuanya. "Forum ini aman, kita saling mengamankan" teriak Cak Nun yang kemudian dijawab oleh Koor Hadirin "Aman".
Kemudian Cak Nun meminta Semua Hadirin berdoa bersama "Untuk supaya Allah menjaga semua Umat Islam didalam perlindungannya Alfatehah. ya Allah yang akan berlaku Hanya Kehendakmu. Inama Amruhu Ida Arada Ayakulallahu Kun Fayakun". Seluruh hadirin pun menjawab dengan "Kunfayakun".

Dan forumpun diakhiri pkl 13.15, meski menurut jadwal yang dikeluarkan Panitia Forum akan berakhir 17.00. 

Ditulis oleh : Red /  BM JATIM (Red BM Jatim/Agung tl, Dok Foto: Denny Lensa)

Haruskah Syi’ah Ditolak?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar