Search

Jumat, 08 Februari 2013

Jangkungi Kahanan Revolusi Senyap

Jangkungi Kahanan Revolusi Senyap

Jangkungi Kahanan Revolusi Senyap, Jangkungi Kahanan Revolusi Senyap di blog MAIYAH ini diposting oleh Horiq Sobarqah 9 FEBRUARI 2012. ( 5.0 )

Reportase
Padhang mBulan, 28 Desember 2012 


Maiyah Padang mBulan

Reportase Maiyah : Jangkungi Kahanan Revolusi Senyap, Pengajian Padang mBulan pada Jumat, 28 Desember 2012, dibuka dengan beberapa nomor solawat. Jamaah memanfaatkan membaca isi Buletin Maiyah yang memuat tulisan Cak Nun berjudul Mamayu Hayuning Maiyah. Sebab tulisan Cak Nun tersebut akan didiskusikan oleh perwakilan jamaah dari Ponorogo, Malang, Mojokerto, Bali dan Ambon.

Pokok isi tulisan Cak Nun menegaskan keberadaan Maiyah bukanlah golongan, aliran, madzhab dan hal sejenis. Oleh karena itu Maiyah bisa saja ditiadakan. Menurut Cak Nun, yang harus diutamakan adalah Islamnya, bukan alirannya. Artinya, kalau Maiyah masih harus diteruskan, maka mulai tahun 2013 jamaah diharapkan mampu menjadikan nilai jariyah. Cak Nun menyontohkan salah satu bentuk jariyah adalah menuliskan informasi kebaikan yang terjadi dalam Maiyah. Supaya memudahkan orang lain mengakses nilai Maiyah untuk pelebaran berbagai wacana.

Nilai Maiyah yang dimaksud seperti dikemukakan Samsul, jamaah perwakilan Bali yang juga purnawirawan TNI AL. Samsul menceritakan pengalaman ketika tahun lalu hendak mengundang Cak Nun dan musik Kiaikanjeng. Kurang satu minggu sebelum kehadiran Cak Nun di Bali, dana baru terkumpul 2 juta rupiah. Padahal anggaran yang direncanakan rapat senilai 130 juta. Tetapi terjadi hal tak terduga, yakni dana dari donatur terkumpul lebih 131 juta menjelang 2 hari berlangsungnya acara. Samsul juga menceritakan meski acara di Bali sempat diguyur ujan lebat, namun pengunjung tetap khidmat mengikuti acara hingga usai.

Cak Nun sendiri menyarankan Jamaah Maiyah ke depan harus mampu jangkungi kahanan (mengatasi keadaan). Jangkungi berbeda dengan ngungguli atau menyombongi suatu keadaan. Tetapi menentukan sikap dalam mengatasi keadaan dengan menyelami terlebih dulu akar permasalaan.     

Dalam mengatasi kebobrokan mental anak bangsa, Jamaah Maiyah tidak dituntut membenahi Indonesia. Tetapi cukup merubah Indonesia dengan cara berfikir yang tepat. Cak Nun menjelaskan bahwa hancurnya peradaban disebabkan manusia tidak berlatih berfikir radikal. Akibatnya bersikap terbalik, seharusnya taat malah kreatif, saatnya kreatif malah taat.

Menyinggung Hari Jadi Jombang, Cak Nun menyarankan para pelaku sejarah tidak berorientasi pada kreatif terbalik. Yakni terburu menghubungkan Jombang dengan Airlangga. Cara demikian terkesan tidak percaya diri dan segera menyamakan Jombang dengan kebesaran Airlangga. Cak Nun melemparkan pertanyaan, “besar mana kapasitas Jombang dengan kapasitas Airlangga? Bukankah Airlangga dulu hanya mampir ke Jombang, ”analisa Cak Nun.

Membincang Hari Jadi Jombang tak lepas dari karakter masyarakat Jombang. Sebab karakter berarti memuat ciri khas keindahan produk alamiah (sunnahtulloh) yang berbeda dengan akhlak. Cak Nun menyontohkan karakter alamiah harimau adalah pemakan daging. Maka, salah jika menuntut harimau memakan tumbuhan. Artinya, tidak patut menyetarakan karakter masyarakat Jombang dengan karakter Ailangga. Hal terpenting justru bukan berpijak pada Hari Jadi Jombang, melainkan bagaimana membawa karakter nilai masyarakat Jombang ke depan.      

Menjelang akhir pengajian, Cak Nun mendapuk Cak Adil Amrulloh untuk urun pemikiran. Menurut Cak Adil, jalan untuk jangkungi kahanan yang terbalik sekarang dengan mengidentifikasi kadar primer dan sekunder suatu permasalahan. Contoh sederana adalah berlomba memasang pengeras suara di berbagai musholah. Cak Adil menjelaskan bahwa perlombaan pengeras suara hanya refleksi kegopohan, kekalutan cara yang dianggap efektif menandingi situasi zaman. Padahal pengeras suara bukan bagian dari unsur keagamaan. Cak Adil menyarankan agar Jamaah Maiyah sadar bahwa sekian lama telah terjadi Revolusi Senyap, yakni perubahan kemerosotan nilai di berbagai bidang, namun masyarakat tidak memahami.

dari catatan Sabrank Suparno, Pewarta: Lincak Sastra.


Jangkungi Kahanan Revolusi Senyap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar